TGB Dan Umat Jaman Now

بسم الله الرحمن الرحيم

Muhammad Zainul Majdi sang Gubernur NTB dua periode yang akrab dipanggil TGB, kini tengah menghadapi gempuran gempuran komentar bernada kebencian terhadap dirinya dari mulai komentar kecewa sampai semua akan menjadi cebong pada waktunya.

Sebabnya hanya satu, beliau berkomentar akan dukungannya terhadap kepemimpinan dua periode sang Presiden Joko Widodo. Sudah sepantasnya umat berduka, setelah HTI dibubarkan, penangkapan beberapa aktivis Islam, kini muncul pernyataan TGB yang mendukung Pakde Jokowi dua periode. Ya Tuhan ampunilah kami Umat Islam yang lalai ini, jangan Kau berikan cobaan yang melebihi kemampuan kami.

Di jaman kiwari ini, nampaknya segala hal yang berkaitan dengan Jokowi tetiba bisa digoreng sedemikian rupa menjadi musuh bersama. Padahal peran musuh bersama dari dulu dan sampai sekarang biasanya diambil sekelompok orang yang melakukan konspirasi guna menklukkan dunia yang biasa kita sebut Akatsuki Yahudi. Etapi karena sudah menyinggung Yahudi, saya mau kasih cerita tentang kaum yang satu ini. Apakah Jokowi merupakan seorang Yahudi?. Ayo dilike dulu artikelnya kemudian share ke temen-temen klen.

Kisah ini dituturkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Sahih-nya, sebuah kitab yang banyak ulama bilang merupakan kitab yang paling otentik kebenarannya setelah kitab suci Al Quran.

Cerita ini bertemakan salah satu sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Salam. Sebelum memeluk Islam, beliau –semoga Allah meridhoinya- adalah seorang Yahudi. Ketika itu Abdullah bin Salam hendak menguji nubuwwah atau kenabian Baginda Nabi sholallahu alaihi wasallam dengan beberapa pertanyaan. Akhir kalam sang Nabi bisa menjawab daftar pertanyaan yang diajukan. Karena itu Abdullah bin Salam meyakini akan kenabian Nabi Muhammad sholallahu alaihi wallam dan langsung menyatakan keislamannya dihadapan Baginda Nabi.

Kemudian setelah itu Abdullah bin Salam bilang kepada Nabi Muhammad bahwa kaumnya adalah kaum yang suka berdusta, maka tanyakanlah pendapat mereka tentang diriku sebelum mereka tahu akan keislamanku. SIngkat cerita datanglah beberapa pemuka Yahudi, lalu Rasulullah menanyakan apa pendapat mereka tentang sosok Abdullah bin Salam.

Dengan keyakinan penuh mereka menjawab “Dia adalah yang paling baik di antara kami anak dari seorang yang paling baik pula di antara kami, dia juga yang paling mulia diantara kami anak dari seorang yang mulia juga diantara kami”.

Kemudian Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasallam berkata “Apa pendapat kalian jika dia telah memeluk Islam?”.

“Semoga Tuhan menjauhi dari hal tersebut”. Jawab mereka khawatir.

Lalu Abdullah bin Salam keluar ke hadapan mereka. Dia yang sedari tadi bersembunyi dan mendengarkan ucapan kaumnya sendiri lantas berucap dengan mantap di hadapan pembesar kaumnya “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya”.

Mendengar hal tersebut, mereka orang-orang Yahudi berkata “Dia adalah yang paling buruk di antara kami anak dari seorang yang buruk pula”. Kemudian mereka beramai-ramai mencela dan menjelek-jelekkan Abdullah bin Salam.

Begitulah salah satu sifat Yahudi di Madinah kala itu, ketika dianggap satu pihak dengannya dipuji sedemikian tinggi namun ketika dianggap berlawanan dengan apa yang diyakininya dijatuhkan sedalam-dalamnya.

Yang buat miris lagi adalah sebagian besar penghujat TGB adalah manusia-manusia yang juga mengkritik dengan tajam kunjungan seorang kiyai tempo hari ke Israel. Mereka bilang bangsa Israel adalah bangsa yang nganu. Namun, mereka tanpa sadar meniru sifat Yahudi yang amat mereka benci.

Mulailah dicari aib-aib sang Tuan Guru. Dibawalah urusan rumah tangganya, dan lainnya. Sementara aksi heroik beliau yang pernah ikut mendemo sang mantan Gubernur DKI hilang menguap begitu saja.

Belum lama juga, KH Makruf Amin diserang sedemikian rupa, dikarenakan seruannya untuk memaafkan orang yang dianggap melecehkan azan. Padahal sikap seruan memaafkan adalah pengamalan salah satu ayat Quran. Dan damaikanlah di antara mereka saudara-saudara kamu.

Pernyataan seorang politisi harus tetap dibawa ke ranah politik. Dan “dukungan” TGB kepada pakde harusnya juga dipandang sebagai ijtihad politik beliau. Oke, anggaplah pernyataan tadi dianggap sebagai “cari muka” supaya Pakde meminang beliau sebagai calon wakilnya. Itu hak beliau dan sah-sah saja di jagad demokrasi.

Banyak pihak kecewa wajar, saya pribadi pun kurang sreg dengan ucapan beliau. Tapi mencaci beliau bukanlah pilihan yang tepat.

Barangkali beliau dengan kapasitas ilmu yang tidak diragukan lagi, jebolan S-3 Al Azhar yang sudah mengaji kitab gundul dari sebelum akil baligh bukan seorang yang cuman dengar ceramah lewat potongan klip youtube dan Instagram. Mempunyai keinginan mulia jika kelak nanti dipilih menjadi Wapres Pakde.

Siapa tahu beliau ingin meniru Erdogan yang sedang memainkan politik tingkat tinggi yang cebong gak bakal ngerti dengan tetap memilih berhubungan bilateral dengan Israel. Atau beliau ingin menjadi sosok Roja bin Haywah sosok ulama yang “masuk istana” para khalifah Dinasti Umayyah. Yang berkat kecerdikannya mampu melakukan suksesi kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Seorang yang dianggap sebagai khalifah kelima dalam sejarah dunia Islam berkat keadilannya dalam memimpin rakyatnya.

Nah, kalau sudah begitu niatnya mau bilang apa nanti di pengadilan Allah?.

Yang jelas saya sih ngajak buat antum-antum semua, mari kita baca lagi sejarah-sejarah tentang perkonflikan dalam dunia Islam.

Ucapan Sayyidina Ali begitu indah jika dibawa dalam manajemen konflik akhir-akhir ini. Beliau pernah ditanya seorang pengikutnya tentang orang-orang yang memeranginya dalam Perang Jamal padahal beliau seorang khalifah sah pada saat itu?.

“Wahai pak presiden, apakah mereka orang-orang yg musyrik (memusuhi agama)?.”

“Justru dari kemuyrikan mereka berpaling”. Jawab Ali.

“Ohh berarti orang munafik mereka itu yaa, Pak Presiden?.

“Orang munafik tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali”. Ali masih menjelaskan.

Kemudian sang khalifah ini melanjutkan jawabannya “Mereka adalah saudara-saudara kita yang sedang memberontak kepada kita?”.

Kisah ini dibawakan oleh Imam Bayhaqi dalam kitabnya Sunan al Kubro dengan sanad yang bagus. Walaupun dalam kitab alMushonnaf, Imam Abdurrozaq membawakan riwayat tentang orang-orang Khawarij yang disebut Ali sebagai “Saudara-saudara kita”. Namun riwayat ini terputus sanadnya karena ada salah satu periwayat yang tidak jelas namanya.

Itu komentar panglima tertinggi buat kombatannya alias dalam kondisi peperangan loh, bukan masalah sepele lawan pilkada atawa pilpres.

By the way, kalau ada yang nanya “akhi apa antum masih konsisten dengan tagar 2019 ganti presiden??”.

Ah, embuhlah mending saya konsentrasi dengan tagar 2019gantistatus, bosen jomblo mas T_T.

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Bagi-bagi, Ringan, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s