Dibalik Simposium Timtengka 2017

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebelumnya saya mau bilang terima kasih kepada kepanitiaan yang langsung diimami oleh Fahmi Aufar selaku ketua, dan teman setianya Prabas yang keduanya merupakan mahasiswa King Saud University Riyadh. Saya sendiri diamanahken sebagai koordinator acara dalam event yang berskala internasional ini.

Jujur, ini merupakan pencapaian terbesar saya dalam dunia ke-orhanisasian (pake H bukan G). Saya dari SMA hanya anggota ROHIS biasa di sebuah SMA negeri yang pernah beberapa kali menyelenggarakan acara. Kemudian masuk kuliah di mari, saya dipercaya sebagai koordinator bagian acara dan kegiatan kabinet PPMI Madinah 2016-2017.

Acara yang dihadiri kurang lebih 300 peserta baik dari cakupan dalam Saudi sendiri, Timur-tengah dan Afrika, sekaligus perwakilan Indonesia dan Malaysia. Dihadirkan pembicara dari mulai Prof Ali Mayouf, dekan fakultas Adab King Saud Univ, Prof Din Syamsudin, Prof Mahfud MD, Ridwan Kamil Walikota Bandung, Prof Masykuri Abdillah Direktur Pascasarjana UIN Jakarta, Bapak Konjen RI di Jeddah Abu Fathia Izzati Hery Saripudin, lalu ada mantan rektor UI Prof Gumilar, dan mantan menteri pendidikan Prof M. Nuh.

Acara utama berlangsung dua hari tertanggal 3-4 April 2017. Diantara yang dihasilkan adalah apa yang disebut Deklarasi Madinah. Saya sendiri karna dapet amanah bagian acara mau nda mau harus bolak-balik, jadi setiap acara yang berlangsung, dengan sangat terpaksa nda bisa ikut nyimak.

Ketika umroh ke mekkah, dikarna-kan ada sabotase beberapa oknum, ckck. Saya dengan amat  terpaksa nda bisa menemani peserta untuk ber-umroh ria. Mohon maaf ya, kurang maksimal?!. Walau ada sedikit hikmahnya, bahwa saya lebih cepat move-on ketimbang panitia yang lain. Dan Alhamdulillah sampai kepulangan seluruh peserta ke alamnya masing-masing tak menemui hambatan yang bikin geger grup panitia.

Sekarang kami panitia, kembali ke halaman utama buku yang kami tulis. Mencoba menuliskan tentang cita-cita dan alasan kenapa kami berada disini. #sedaaapp

Behind The Scenes

_DSC0002

Walhasil, Alhamdulillah saya sendiri cukup puas. Acara berlangsung lancar tanpa hambatan yang cukup bikin rempong. Walaupun persiapan menjelang hari ekskusi cukup bikin tidur nda nyenyak. Dari mulai bolak-balik hotel tempat acara utama, hotel tempat peserta delegasi dan pembicara menginap, sampai harus ke Balai Kotanya Madinah.

Entah sudah berapa banyak kolesterol yang mengendap di badan kami dikarenakan gorengan yang senantiasa menemani kami dalam tiap rapat, baik rapat tim inti, rapat koordinasi dengan bagian yang laen. Rapat via skype juga beberapa kali harus dilakukan mengingat panitia yang tersebar mulai dari Madinah, Jeddah, Riyadh, sampe timur Saudi di Dahran.

Persiapan cukup lama, seinget saya rapat perdana itu berbarengan aksi 212 di Jakarta. Sebelumnya udah mulai diskusi-diskusi lewat grup WA. Awalnya saya nda mau terlibat, karna pasti ini acara rempongnya bukan main, secara level internesienel. Tapi karna waktu itu masih jadi koordinator aktif bagian acara  di PPMI Madinah, mau tak mau masuklah nama dalam list panitia. Dengan alasan jiwa corsa antar anggota PPMI Madinah. Terlebih proyek ini merupakan gaweannya PPMI Saudi Arabia, jadi sebagai anggota PPMI cabang, wajib hukumnya ikut turut mensakseskan program pemerintah pusat (PPMI Saudi).

Sbelumnya udah saya kasih syarat, pokoknya anggota biasa aja TITIK. Dan emang dunia konspirasi bukan hanya merambah tingkat elit, namun juga merambah kelas remah-remah kepanitiaan. Pertama diangkat jadi wakil koordinator, dengan alasan klasik antum kan koordinator PPMI Madinah, akhiii. Okehlah, wakil aja cukup. Kemudian menyusul 3 minggu sebelum acara, dikarenakan pak koordinator sebelumnya pulang kampung, maka dengan terpaksa saya harus menempati kursi kosong yang ditinggalken beliau.

Karna big no idea tentang apa itu makhluk yang bernama simposium, maka koordinasi dengan pak ketua umum lewat WA dan telpon mengisi hari-hari saya waktu itu, To Mas Fahmi saya rindu momen itu??. Alhamdulillah tim cukup kompak, karna sebagian besar panitia emang temen satu kampus di Madinah. Jadi udah nda kaku-kakuan lagi, secara udah tau borok masing-masing maksudnya udah tau cara kerja masing-masing.

Konsep acara juga dapat tantangan tersendiri, bagaimana simposium ini dilaksanakan di kota suci Madinah. Campur baur antar lelaki dan perempuan mutlak dilarang oleh pemkot Madinah. Mungkin hanya simposium kali ini, peserta laki-laki dan perempuan dipisah. Peserta pada awalnya pun kaget, namun tetap menerima dan memaklumi keadaan.

IMG_4053

Belum lagi ketika deg-degannya kami ketika ada peserta yang membawa minum dan makan ke venue acara. Karna sesuai kontrak bahwa kami dilarang membawa apapun bentuk makanan dan minuman ke dalam ballroom hotel movenpick madinah.

Juga ketika ruangan yang harusnya tak terpakai, terpaksa dipakai oleh beberapa panitia dan peserta yang padahal ruangan itu tidak termasuk dalam akad kontrak antara pihak hotel dan panitia.

Belum lagi jika ada razia oleh kepolisian madinah yang kedatangannya mirip adegan jump scare di film-film horor. Serba dadakan dan tanpa pemberitahuan.

Dan juga surat izin yang di injury time baru berhasil di approve oleh pihak pemkot Madinah.

Kalau ditanya ke saya :

Apaan sih faedah simposium?

Paling saya jawab :

Yaa, ajang eksistensi. Dengan gawean gini, angtum’s bisa membuktikan keberadaan angtum’s semua. Utamanya kami mahasiswa Indonesia yang Allah takdirkan nyangkut di mari. Kami sadar bahwa kami sering dicap terlalu ke-arab araban, ga Indonesia bingit’s. Padahal jika dibelah dada ini terseliplah nama kamu eh nama Ibu Pertiwi.

Kalaulah ada sebagian anak Ibu Pertiwi jauh dari rumah, tentu tak serta merta menjadikan sebagian anak itu menjadi anak yang durhaka. Tetaplah ia seorang anak yang rindu akan belai tangan ibunya, dan berjanji kelak akan tiba saatnya untuk kembali mencium tangan ibunya dan berbakti kepadanya.

Maka diadakannya simposium ini untuk meneguhkan identitas kami, bahwa kami peduli dengan apa yg terjadi dengan Ibu Pertiwi. Kami juga merasakan apa yg dikhawatirkan oleh Ibu Pertiwi. Walaupun kami sadar bahwa bakti kami terhadapnya amatlah sedikit.

IMG_9490

Sekarang di grup panitia sendiri masih rame, dari mulai yang serius sampe gossip-gosipan. Saya sendiri juga nda tau sampe kapan bertahan riwehnya grup itu, yang jelas saya menikmati momen chat berbalas chat. Mumpung masih anget, karna kalo udah kering, nga-ngetinnya susah lagi. Saya Insya Allah mencoba terus bertahan sampai pak ketua kasih pengumuman bahwa pembubaran panitia diadakan di Raja Ampat. Aamiin.

Di antara kami pun terselip istilah-istilah yang baru, semisal Roudhoh Portabel, Mudir Banat, Pegawai Indomi* dan lain-lain. Uniknya juga ada beberapa peserta yang mirip dengan panitia, yang menambah bahan untuk kami tertawa.

Harapan saya, mudah-mudahan alumni simposium ini membuat gerak aksi nyata, kalau perlu bikin gathering lagi-lah abis syawwal sekalian halal bi halal #eh.

Terakhir saya mau ucapken terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu acara ini, KBRI, KJRI, PPI Dunia, dan yang lainnya. Juga apresiasi terbesar kepada seluruh delegasi baik Indonesia, PPI Timur Tengah dan Afrika, serta Malaysia. Kami panitia mohon maaf jika kurang maksimal dalam melayani kalian semua.

Sekali lagi terima kasih kepada seluruh panitia walau sertifikat ane masih ditahan, terutama kepada pak ketua Fahmi Aufar, dan juga Prabas dua orang arstitek kegiatan ini. Kepada masing-masing koordinator dari mulai akomodasi dan transportasi si Bocah Majelengka Syauqi Bey, koordinator transportasi dan humas Abdullah Ahzami, koordinator perlengkapan Nazeeh Masyhudi, koordinator media publikasi Husni Zahabie walaupun foto ane ga lengkap dan banyak miss-nya., dan terakhir koordinator LO yang udah ga usah disebut lagi namanya, udah paling terkenal doi diantara peserta delegasi. Buat tim acara juga dari mulai Fathi Robbani, Ariful Ma’ruf, Viro Siregar, Yusuf Alam, dan Ust Herika Taki.

Akhir kalam, saya buat pantum buat peserta

Bukan mahrom jangan dicium

Bukan jodoh janganlah gundah

Buat kalian peserta simposium

Tetap bersatu demi Indonesia yang lebih indah

#tsaaaaah.

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Bagi-bagi dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Dibalik Simposium Timtengka 2017

  1. ade_jhr berkata:

    Isi deklarasi madinanya apa ya hehe. Alhamdulillah lancar acaranya semoga bisa buat acara lain lg aamiin

  2. rivenskyatwinda berkata:

    waaaah seru banget kak, takjub aja sama acaranya yg besar banget dan internasional.. baarakallahu fiikum, etapi pantunnya kocak beneeer

    • Dinar Zul Akbar berkata:

      Wa fiik barokallah
      Canggung banget emang, orang di kampung kerja bakti bareng aja ga pernah dtg, eh tetiba terlibat acara ginian
      Kalo pantun kalo ga harus lucu yaa nyastra masalahnya yg tipe nyastra blm bs bikinnya, hha

  3. Jauharry berkata:

    Vroh gorenod sana ada Cirengnya gak?
    BTW itu foto lagi d maki-maki sama emak-emak??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s