Dari Cleaning Service Hingga Kuliah Hadits

Sebetulnya saya dah pernah bahas ginian di postingan sebelumnya. Tapi, berhubung dikirim ke PPI Dunia, maka bahasanya lebih formal, dengan versi yang lebih lengkap dibanding sebelumnya. So, enjoy it.

Bismillah,,

Saya terlahir di Ibukota dan asli ibukota, tetapi bukan di pusat kota melainkan di wilayah pinggir sebelah barat. Namun gemerlapnya ibukota tak mampu menyinari redupnya lingkungan kami. Saya lahir dari keluarga menengah bawah anak kedua dari tiga bersaudara. Di kampung saya sendiri, sangat bisa dihitung dengan jari, pemuda atau pemudi yang studinya lanjut sampai jenjang perguruan tinggi.

Kami begitu puas hanya dengan tamat tingkat SMA ataupun yang sederajat. Dengan ijazah SMA atau yang setara, kami memandang cukup untuk memasuki dunia kerja. Entahlah, saya sendiri diantara kondisi puas ataupun terpaksa. Jauh-jauh sebelum lulus SMA, orang tua saya sudah mewanti-wanti bahwa biaya untuk kuliah blas tidak ada.

Waktu itu ada berbagai macam tes masuk PTN yang banyak ditawarkan kepada calon mahasiswa, ada yang namanya SIMAK UI, SNMPTN, UMB atau ujian-ujian mandiri dari beberapa kampus, satu-pun saya tidak mencobanya. Walaupun saya haqqul yakin, bahwa saya mampu. Pikir saya waktu itu sederhana, lu kerja lu cari duit lu kuliah.

Mengenai orangtua saya sendiri, ayah saya seorang yang tidak berpenghasilan tetap namun tetap berpenghasilan. Ragam profesi beliau lakoni untuk keluarganya dari mulai supir, security, walau yang sering dilakukan adalah penawaran jasa semisal pembuatan surat-surat KTP, akta kelahiran dan semisalnya. Sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga tak lebih dan tak kurang.

Pada tahun 2008 saya lulus dari sebuah SMA negeri di Jakarta. Ijazah SMA saya hanya mampu membawa saya pada tahun yang sama untuk bekerja sebagai Salesman. Kerjanya cukup simple hanya menawarkan kredit barang elektronik di sebuah pusat perbelanjaan. Gajinya saat itu hanya 600 ribu rupiah perbulan, dengan jam kerja masuk tiap hari namun dibagi menjadi dua shift.

Tak begitu lama saya mengadu nasib di tempat itu. Hanya bertahan satu bulan, saya kena korban PHK dikarenakan krisis ekonomi yang melanda dunia saat itu. Saya masih ingat betul ketika gaji pertama dan terakhir itu, saya pakai untuk traktiran sekeluarga makan bakso.

Kemudian di tahun depannya, saya kembali bekerja. Lagi-lagi ijazah SMA saya hanya mampu mengantar saya ke posisi tukang kebun di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Kerjanya merawat tanaman yang ada di sekolah negeri tersebut. Upah yang saya terima meningkat menjadi 900 ribu rupiah dengan jadwal kerja yang tak sepadat sebelumnya.

Jujur, saya sempat menangis ketika awal-awal melakukan pekerjaan itu. Ditambah tempat kerja yang merupakan lingkungan SMA, dan waktu itu saya merupakan fresh graduate hampir-hampir rasa gengsi dan malu menyudahi “karier” saya pada waktu itu.

Tak terasa sudah beberapa bulan, saya pun mendapatkan “kenaikan pangkat”. Pesuruh bahasa sopannya, tukang sapu bahasa kasarnya dan cleaning service bahasa kerennya. Ya saya mendapat tugas membersihkan musholla, serta 3 ruang kelas plus tangga. Posisi ini adalah posisi paling lama yang saya tekuni dalam riwayat pekerjaan saya selama ini. Dengan “kenaikan posisi” ini, upah saya pun bertambah menjadi genap 1 juta rupiah. “Cukuplah untuk bayar kuliah kelas karyawan” batin saya kala itu. Gaji yang terima saya tabung sebagian kecil untuk kuliah, dan sebagian besar lainnya untuk pelunasan kredit motor.

16711803_10207724448503595_5075403987969656888_n

Berbulan-bulan kerja hingga sampai satu setengah tahun lamanya. Sampai pada satu titik, saya putuskan untuk berhenti kerja dan memulai kuliah. Sebuah keputusan yang sulit, keluar dari zona nyaman dan mencoba masuk ke zona perang atau perjuangan.

Ada beberapa hal yang memaksa saya untuk berhenti. Pertama adalah jarak tempat kerja yang hanya beberapa ratus meter dari pusat lokalisasi masyhur Jakarta. Dari mulai Kalijodo, Tamansari, Mangga Besar dan lainnya. Bahkan ketika saya pulang larut malam, banyak kupu-kupu malam yang mulai mengepakkan sayapnya di pinggir-pinggir jalan.

Yang kedua adalah lingkungan dan kondisi kerja pada waktu itu. Suasana kebatinan saya betul-betul mencapai titik yang sangat amat tidak nyaman, andaikan saya masih bertahan di lingkungan seperti itu. Persaingan kerja yang tidak sehat dan kebiasaan-kebiasaan beberapa teman yang cukup mengelus dada berkali-kali.

Dan yang terakhir tak kalah penting adalah, perasaan untuk bisa kuliah, dan kembali menuntut ilmu. Jikalau saya mengambil posisi kuliah sekaligus nyambi kerja, tentu hal itu akan menguras banyak tenaga dan perhatian. Dengan berat hati salah satu diantara keduanya harus diambil. Entah kerja atau kuliah, dan hati saya waktu itu memilih kuliah.

Orangtua merasa berat ketika saya sampaikan niatan bahwa saya akan berhenti kerja dan mulai kuliah, terutama ibu. Alhamdulillah berkat taufik dari Allah, pihak keluarga menerima keputusan saya setelah melalui proses meyakinkan yang berurai air mata.

Pada waktu itu tahun 2010, saya pun mencoba masuk kuliah di sebuah sekolah tinggi ilmu ushuluddin  swasta di bilangan Mampang. Biayanya cukup murah hanya 600 ribu /semester tanpa uang gedung, dan tanpa uang sks. Karena saya sama sekali buta bahasa arab, tidak pernah nyantri kecuali pesantren kilat, saya pun mengambil kelas matrikulasi bahasa arab di sekolah tinggi swasta tersebut dengan pertemuan sebanyak 3 kali seminggu di kelas malam.

Mulailah saya belajar, dari mulai menghitung bilangan arab semisal wahid, itsnain, tsalastah (baca : 1, 2, 3) disitu juga saya mulai membaca huruf gundul aksara arab. Saya pikir hanya setan gundul yang bisa bikin bulu kuduk berdiri, namun huruf gundul pun bisa memainkan peran yang sama.

Di fase ini pula, saya mulai berdagang dalam skala kecil-kecilan dari mulai minyak wangi, siwak, serta obat-obatan herbal. Yaaa walaupun hasilnya ngepas dan tak cukup untuk menabung biaya pernikahan Alhamdulillah, aktivitas saya baik di dalam dan di luar kampus tercukupi dari hasil penjualan tersebut.

Satu tahun lamanya saya belajar bahasa arab, hingga kemudian saya memberanikan diri untuk mencoba mengambil beasiswa di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). Selama kurang lebih 4 bulan saya mempersiapkan diri. Mengerjakan berulang-ulang soal ujian masuk pada tahun-tahun sebelumnya.

Ketika hari ujian tiba, saya masuk ke dalam gedung dengan tingkat percaya diri yang menukik tajam. Ketika itu saya lihat, banyak yang datang dengan menggunakan jaket ma’had atau pondok pesantrennya, bahkan tak sedikit yang mengenakan gamis lengkap dengan pecinya. Sedang saya saat itu hanya menggunakan batik, tanpa peci mirip orang yang datang nikahan.

Selang beberapa hari, pengumuman keluar dan Alhamdulillah saya diterima dalam kelas I’dad Lughowi atau kelas persiapan bahasa. Kelas ini berdurasi selama 4 semester dua tahun.

Sekilas tentang LIPIA, sebetulnya lembaga ini adalah kampus cabang yang berindukkan Imam Muhammad Saud Islamic University di Riyadh, KSA. Maka dari mulai kurikulum hingga tenaga pengajar didatangkan langsung dari Kerajaan Saudi Arabia.

Disamping keistimewaan tadi, seluruh mahasiswa LIPIA berhak mendapat beasiswa penuh berupa biaya pendidikan, tunjangan uang saku perbulan ditambah buku atau kitab secara gratis selama menempuh pendidikan di lembaga tersebut.

Selang setahun belajar di LIPIA, saya masih belum puas dalam berburu beasiswa. Hasil berselancar di dunia maya saya dapatkan bahwa, ijazah SMA saya ternyata masih bisa digunakan untuk pendaftaran online di Islamic University Of Madinah, walaupun usia ijazah saya saat itu sudah lewat hampir 4 tahun.

Dengan modal bahasa arab yang agak mending saya nekat mendaftar. Untuk proses seleksi masuk, pihak universitas mendatangkan langsung masayikh atau dosen-dosen mereka. Tempat berlangsung seleksi pada waktu itu adalah Pondok Pesantren Darun Najah, Jakarta. Kami mengikuti tes tulisan serta lisan.

Alhamdulillah selama tes berlangsung, saya mendapat kemudahan dari Allah Ta’ala. Walapun lagi-lagi mendadak ciut ketika melihat peserta tes lainnya, kebanyakan dari mereka penghafal Quran, bahasa arabnya juga bisa dibilang tingkat lanjutan dan lulusan pondok pesantren ternama. Beberapa diantara mereka bahkan bisa membuat syekh atau pengujinya tertawa ketika proses wawancara berlangsung. Sedangkan saya hanya bisa menertawakan diri sendiri, di dalam hati tentunya.

Butuh waktu satu tahun setengah dari proses seleksi untuk bisa keluar pengumuman nama-nama yang diterima. Saking lamanya bahkan saya sudah tidak terlalu  peduli dan memikirkannya. Toh ketika gagal, pikir saya kala itu saya masih kuliah gratis di LIPIA. Namun Allah sang Rahman punya kehendak lain. Nama saya Alhamdulillah masuk diantara 97 nama lainnya.

Dus, semalaman saya tidak bisa tidur, hanya bisa menangis sambil mengingat betapa Allah sangat sayang kepada diri ini, sementara secara pribadi masih banyaaak lalai dan jauh dari kata taat.

Gerak cepat, saya urus semua yang berkaitan dengan administrasi. Alhamdulillah ada Yayasan Ar Rohmah milik salah satu alumni Islamic University Of Madinah yang membantu kami semua peserta tes yang dinyatakan lolos.

Sempat 3 kali ditunda keberangkatan kami ke Saudi Arabia yang semula dijadwalkan pertengahan Februari 2014. Padahal pengumuman nama sudah kami ketahui semenjak November 2013. Sampai beberapa pihak bilang “Sebenernya lu jadi kuliah ga sih?”. Mendengar pertanyaan tadi sudah banyak jurus yang dikeluarkan saya saat itu. Dari mulai jawaban santri “mohon doanya” jawaban politisi “ya karna satu dan lain hal bla bla” sampai pura-pura tuli.

2 April 2014 menjadi salah satu episode yang begitu berharga bagi saya pribadi. Hari itu saya dengan diantar rombongan berjumlah empat buah mobil yang terdiri dari keluarga besar menuju ke Soekarno-Hatta. Di hari itu saya melihat wajah-wajah tangis haru, utamanya kedua orang tua saya. Saya kira juga ada sedikir tangis bangga yang tersirat di kedua wajah mereka.

Hingga akhirnya saya masuk ke kabin pesawat dan melihat melalui jendela, tanah dan hijaunya daratan di areal bandara. Tanah hijau yang akan saya segera tinggalkan. Tanah hijau yang segera akan tergantikan oleh gersangnya gurun pasir. Tanah hijau yang akan segera berganti dengan Kubah Hijau dari pemakaman Nabi Muhammad sholallahu alayh wasallam. Disitulah tak terasa air mata membasahi pelopak mata.

Sampai di Madinah, kami mengikuti penyambutan yang dilaksanakan oleh PPMI Madinah. Mereka senior kami dari PPMI setia menemani kami hingga proses yang berkenaan dengan administrasi tuntas. Dalam proses tersebut kami diwawancarai tentang jurusan apa yang akan di ambil. Dengan mengucap bismillah maka saya putuskan memilih jurusan Hadits dan Studi Keislaman.

Dan inilah saya, disaat teman-teman angkatan baik SD, SMP, dan SMA sudah banyak yang berkeluarga, banyak yang tengah meniti karier atau bahkan sampai S2 di luar negeri, saya masih berkutat dengan tugas-tugas mahasiswa S1.

Di kampus ini, saya bisa bertemu dengan banyak orang lintas negara, juga beberapa tokoh serta berdiskusi dengan senior-senior yang sudah punya nama. Kami berbagi pengalaman dan cerita yang mudah-mudahan Allah jadikan hal itu sebagai pelajaran yang bermanfaat buat saya pribadi nantinya.

Dinar Zul Akbar
Mahasiswa semester 6 kuliah Hadits dan Studi Islam
Islamic University Of Madinah
Koordinator Bagian Acara PPMI Madinah

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Bagi-bagi dan tag , , , . Tandai permalink.

21 Balasan ke Dari Cleaning Service Hingga Kuliah Hadits

  1. rivenskyatwinda berkata:

    Mantaaap kak Dinar, lagi musim dingin ya? Apa yah bahasa musim-musimnya lupa. Yang ini lebih keren, mungkin karena bahasanya lebih formal yaak. Semoga menang, kak. Saya liat infonya di PPI Dunia, mau ikutan lombanya, tapi nggak berani. Hehe.
    Waah, udah semester 6 aja. Akhirnya yaa, udah mau lulus ya kak bentar lagi..

    • Dinar Zul Akbar berkata:

      Iy lg musim dingin dimari alhamdulillah
      Masih lama ini perjuangan, Winda, dah lulus ya?
      Bukan lomba, itu katany mau dikumpulken jadi satu buku, barangkali bs masuk kan lumayan ada kontribusi sy sbg slh satu anggota PPI dunia, secara disini jd PPI madinah
      Hha

      • rivenskyatwinda berkata:

        Waaah seru banget, maen salju dong kak? Hahaha.
        Beluuum kak, lagi skripsi ini teh, doanya yaak.
        Oh dibikin buku, tak kira lomba. Harus anak PPI yak? Wiih mantaap yak jadi anak PPI.
        Kak, kemarin itu ke pas awal ke madinah pake LoA nggak?

      • Dinar Zul Akbar berkata:

        wah salju mah belon ada, kalo pasir sih seabrek
        jadi anggota PPI Madinah, itupun akhir bulan ini dah abis masa baktinya, ga pernah ngeposting ttg PPI tau2 dah mau abis
        hha
        kalo harus anak PPI kurang tau y, itu ada CP nya mungkin bs dikontak
        oya, ada LoAnya

      • rivenskyatwinda berkata:

        kirain bisa maen salju kayak di Turki,

  2. rivenskyatwinda berkata:

    haha asa bodor itu, sabar yaak. gimana itu dapetinnya? bisa kali kak bagi-bagi tips, hehe

  3. ade_jhr berkata:

    Perjuanganya keren.. selalu semangat ya..

  4. mysukmana berkata:

    kamu keren kak, semoga bersinar selalu seperti mata uang Dinar

  5. rizka berkata:

    such an inspiring stories, really interest….
    😢 terharu bacanya

  6. resep senyum berkata:

    Masyaa Allah…
    Izin share ya mas dinar…

  7. Khoirotun Nafsi berkata:

    Assalamualaikum. Wah saya gak tau kenapa tiba-tiba bisa nyasar di blog Mas ini. Ceritanya inspiratif sekali yaa. Hmm, kayaknua sekolah yg dimaksud dulu SMA 2 Jakarta ya? Dan kayaknya waktu mas ini masih kerja di SMA 2, saya masih sekolah disitu tuh hehehe. Terimakasih sudah berbagi cerita yg sangat inspiratif. Sukses terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s