Tabuk, Palagan Akhir Sang Nabi Akhir

بسم الله الرحمن الرحيم

Ditengah dinginnya cuaca Madinah yang nyolek kisaran 3 derajat. Dengan berkeredongan sarung #pada paham ya?, saya coba kumpulkan semangat posting walau godaan sang selimut dan bantal tuk bobo bareng menggema kuat di telinga.

Rabu dan kamis pekan lalu saya Alhamdulillah berkesempatan buat jalan-jalan ke ujung utara Saudi. Rihlah atau tur ini gawe-annya panitia pameran kebudayaan Indonesia yang saban tahun ada di Universitas Islam Madinah. Dengan hanya 115 real, kita ber-50 orang bisa ke dua kota yaitu Al Ula dan Tabuk. Buat cerita di Al Ula saya skip dulu buat postingan selanjutnya.

Pertama kali diajak ke Tabuk, yang saya bayangin pertama adalah Perang Tabuk, dan yang kedua yang nda kalah seru adalah salju. Sebetulnya sih saya orang yang emoh kalo soal jalan-jalan. Tapi karna ini Tabuk, tempat yang mengandung nilai sejarah. Maka tanpa pikir panjang saya bilang “oke, ane ikut”.

Nama Tabuk yang terletak sekitar 778 KM dari Madinah tentu nda asing buat yang pernah baca sejarah hidup Rasul sholallahu ‘alayh wasallam. Dikisahkan oleh banyak sejarawan, Perang Tabuk adalah ekspedisi militer terakhir dan terbesar yang pernah dipimpin oleh Rasul sholallahu alayh wasallam. Sebab utamanya adalah Kaisar Romawi kala itu Herakles berencana menginvasi Madinah bareng suku-suku arab yang jadi sekutu mereka.

Mendengar hal itu Rasul sholallahu alayh wasallam tak gentar dan malah mengumumkan ke khalayak ramai bahwa musuh telah bersiap menyerang. Prinsip sederhana yang sering saya denger di kampung “lu jual gua beli” nampaknya bisa kita angkat di peristiwa ini.

Ekspedisi militer Tabuk pada tahun 9 H itu menawarkan sejuta kisah heroik yang patut diingat dan dinarasikan ke generasi muslim berikutnya. Dari sekian banyak kisah kepahlawanan tadi, ada kisahnya Sayyidina Utsman ibn Affan rodhiyallahu anhu. Tatkala Rasul sholallahu alayh wasallam menawarkan surga kepada siapa saja yang berinfak untuk ekspedisi ini, maka beliau Ustman tampil di shaf pertama. Ribuan dinar digelontorkan dari kas pribadinya. Di sebagian riwayat dikatakan beliau juga menginfakkan onta-onta miliknya.

Kisah Sayyidina Abu Bakr yang menyumbang seluruh hartanya dan Sayyidina Umar ibn Khotob yang menyumbang setengah hartanya juga dikabarkan terjadi pada perang ini. Dan banyak lagi para sahabat yang mendermakan harta-harta mereka.

Ada yang menyumbang setengah karung korma, ada juga yang satu karung korma. Bahkan salah seorang diantara mereka bernama Ulabah ibn Zaid, seorang fakir yang kefakirannya menghalanginya tuk berjihad. Sedang ia tak punya apapun tuk diberikan kepada kaum muslimin yang ikut berperang saat itu. Suatu malam dia berdoa sambil menangis bermunajat kepada Tuhannya.

Ya Allah, sungguh Engkau telah memerintahkan jihad, dan Engkau juga mencintai orang yang melakukannya, namun Engkau tidak memberikanku hal-hal yang dapat menunjangku untuk berjihad bersama RasulMu.

Ya Allah karna itulah, sungguh diri ini telah mensedekahkan kepada setiap muslim (yang ikut berjihad) setiap pahala yang aku peroleh disebabkan perbuatan zholim orang lain terhadapku baik lahir ataupun batin.

Ekspedisi ini diikuti oleh sekitar 30.000 kaum muslimin. Tidak ada yang menetap di Madinah kecuali orang yang terhalang karna faktor-faktor tertentu, semisal anak-anak, orang tua, dan orang sakit atau orang munafik yang membangkang perintah Rasul sholallahu alayh wasallam. Seluruh sahabat Nabi sholallahu alayh wasallam ikut serta kecuali Ali ibn Abi Tholib yang bertugas sebagai presiden ad interim dan 3 orang yang di akhir cerita Allah terima taubatnya.

Jarak yang jauh 778 KM dengan perjalanan 15 hari serta cuaca yang panas saat itu bulan Rajab, -di Saudi musim panas bisa berkisar 40-50 derajat- tak menyurutkan semangat juang para sahabat. Dan bukan sebuah kebetulan bahwa sebelum ekspedisi ini berlangsung, kondisi ekonomi Madinah sedang berada dalam titik nadir. Bahkan pasukan ini dinamakan pasukan al ‘usroh yang artinya krisis.

Diceritakan bahwa demi menghemat logistik, ada dua orang yang makan dari sebuah kurma yang dibelah. Bahkan ada sebagian diantara mereka yang hanya menghisap kurma tanpa memakannya. Sesampainya di Tabuk ternyata pasukan Romawi beserta koalisinya tak menampakkan batang hidungnya. Hingga hari ke dua puluh Rasul sholallahu alayh wasallam dan para sahabat bermukim di Tabuk, tak ada tanda-tanda dari musuh akan datang maka beliau pun memutuskan tuk kembali pulang ke Madinah.

Yuk dibaca lagi kitab biografi Rasul sholallahu alayh wasallam yang banyak terjemahannya di toko-toko buku terdekat. Di Quran sendiri salah satu surat yang cukup banyak merekam fragmen sejarah ini adalah surat At Taubah.

Tadi udah narasi tentang Perang Tabuk. Sekarang balik lagi tentang rihlah saya di Tabuk ini.

Setelah tiba di provinsi Tabuk pada rabu malem, bus yang kami tumpangin langsung banting stir ke arah barat. Kami langsung menuju Dhuba -bukan Dubai- yang merupakan salah satu pantai yang ada di Tabuk. Bermodalkan smartphone dan Google Maps, sampailah kita sebelum shubuh di kawasan pantai tersebut. Jaraknya lumayan cuman 200 km aja.

Dinginnya Tabuk ngalahin Madinah, pas turun buat sholat, menggigil badan saya yang emang pede cuman bertameng satu gamis, satu kaos tangan pendek, ditambah satu kaos tangan panjang, tanpa jaket, kupluk dan sarung tangan. Matahari pun terbit dan taraaaaa, yup saya ada di pantai, sodara.

Setelah sekian lama nda liat ombak laut. Terakhir ke Parangtritis sekitar 2013 bareng shohib dari LIPIA, namanya Ryan berdua aja. Udah siap ngobak di laut. Dan ternyata pas ditelusuri pantainya nda ada pasirnya. Pantainya udah banyak cor-an bangunannya. Pasirnya ada di taman-taman buat tempat maen bocah-bocah di seberang agak jauh dari bibir pantai. Tapi tak apalah yang penting bisa liat ombak Laut Merah, adem rasanya karna biasanya cuman liat gunung cadas bebatuan dan padang pasir.

Di pantai nih

Di pantai nih bareng ust Kamil

Setelah puas maen di pantai, kita balik lagi ke pusat kota. Target selanjutnya adalah yuki alias salju. Skip, skip, dan skip balik lah kita ke pusat kota Tabuk. Sebelumnya, senior udah kasih tau bahwa salju di Tabuk adanya di Gunung Luz namanya. Padahal awalnya sih saya kira salju terhampar di jalan-jalan.

Tanyalah kita ke warga, dan eh warga bilang tuk hari-hari ini saljunya belum ada. Yassalam, niat mau foto guling-guling di salju jadi tak terealisasiken. Mau liat salju dengan biaya murah akhirnya kandas. Abisnya mau ke Turkey kayak sebagian mahasiswa yang pas liburan kesana buat liat salju, biayanya seharga 10 gram emas yang bisa dipake buat mahar kawin. Ngapain amat??.

Dan akhirnya beralihlah kita ke benteng peninggalan dinasti utsmani, masjid At Taubah yang konon dulu ketika Rasul sholallahu alayh wasallam ke Tabuk beliau sholat disitu bersama para sahabatnya, dan stasiun kereta api yang juga peninggalan dinasti utsmani. Setelah selesai semua barulah kita balik ke Madinah yang memakan waktu kurang lebih 10 jam saja.

Di benteng peninggalan Utsmaniyah

Di benteng peninggalan Utsmaniyah : Kamil paling tinggi, Izzi yang angkat tangan, Syauqi paling mungil, Romi kaca-mata-an dan saya Giring mode : on

و الله أعلم

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Bagi-bagi dan tag , , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Tabuk, Palagan Akhir Sang Nabi Akhir

  1. dani berkata:

    Makasih banyak Mas diingatkan lagi sejara perjuangan Rasulullah. 😊😊
    Penasaran sama foto sepanjang jalannya saya Mas. 😁😁

  2. Iwan Yuliyanto berkata:

    Katanya di sana saat ini lagi cuaca ekstrim.

    Request dong .. posting foto kereta api peninggalan dinasti Utsmani, serta sekelumit sejarahnya.

  3. Ferdy Lpu berkata:

    wah dingin banget ya mas disana. saya kira panasnya melebihi katulistiwa. bisa dibawah nol derajat gitu

  4. Lailatul Qadr berkata:

    Nanggung ceritanya, Din…. Banyak skip nya… 😀

  5. Jauharry berkata:

    Saking susahnya cuma bisa menunggu nsedekahkan pahala. Berarti d sini orang susah tetep bisa sedekah yah…

    Btw itu pantai apa hutan serengseng?? Cuma ada ayunan aernya manaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s