Kalah Dengan Setan

بسم الله الرحمن الرحيم

Professor Muhammad Al Hasaniy Al Makkiy menceritakan seputar kisahnya saat beliau berhaji dengan ayahanda tercinta Sayyid Alawi. Muhammad remaja ini yang kelak meraih gelar dari S1 – gelar Professor dari universitas besar Al Azhar masih mengingat kejadian yang dia saksikan di Mina tepatnya areal sekitaran jamarot (tempat lempar jumroh).

Saat itu ia melihat bersama sang ayah ada seorang laki-laki yang memanjat dan menaiki salah satu tiang jamarot. Tak cukup sampai disitu, lelaki ini pun mencopot sandalnya dan memukul-mukul ujung tiang dengan terompahnya tersebut.

Sayyid Alawi berkata kepada Muhammad anaknya “Jika kau bertanya kepadanya, kenapa ia berbuat seperti itu pasti dia akan menjawab bahwa tiang ini adalah simbolisasi dari setan. Padahal sesungguhnya setan tengah berada di atas pundaknya sambil membisiki untuk melakukan hal tersebut.”

Sebagaimana maklum bahwa lempar jamrot yang sah adalah dengan 3 buah batu kerikil. Ketika ditambahkan dengan sendal, payung dan sebagainya maka otomatis perbuatan tadi tidak sah menurut hukum syara.

Ya itulah gambaran kita dewasa ini. Terkait aktifitas di dunia virtual khususnya dan dunia nyata umumnya. Saya sering baca postingan atas nama dakwah dan kebenaran -katanya- faktanya justru amat jauh dari kaedah dakwah. Kritik tanpa solusi yang cenderung nyinyir bahkan bully tak sedikit menghiasi dinding medsos saya. Kutap kutip sana sini yang jauh dari prinsip tabayyun atau cover both side.

Setan dan anak buahnya adalah sosok yang pintar dan lihai. Jangan dikira dia hanya menyeru kepada manusia ke dalam perbuatan maksiat. Dengan intrik liciknya tak jarang ia juga menyeru manusia ke jalan kebaikan.

Sebagian dari para da’i medsos dengan semangat 45’nya tak segan menyerang siapa saja yang dianggap lawan dengan tujuan membela yang haq. Mengutip Ustadz Ahmad Sarwat slogan Qulil Haq Walaw Kana Murron (katakan yang benar walau itu pahit) menjadi Qulil Hoaxqo Walaw Kana Murron.

Uniknya giliran berita tak sedap menimpa kelompoknya maka golongan ini berubah layaknya para Imam Ahlul Hadits dari kalangan mutasyaddidun (ketat dalam periwayatan/penerimaan hadits) semisal Syu’bah, Yahya ibn Said, Abdurrohman ibn Mahdiy dan lainnya. Website ini milik anu, milik fulan jangan dibaca. Atau dia akan berseru si fulan ini begitu si alan begini musuh Islam jangan dipercaya.

Ataupun dalam berdiskusi sering kita lupakan perkataan Imam Syafi’i yang satu ini. “Tidaklah aku mendebat seseorang kecuali dengan harapan agar dia diberikan taufiq”. Sekarang meja diskusi khususnya dunia maya tak lain hanya tuk menjatuhkan seseorang. Atau untuk menampakkan bahwa dia berilmu. Atau sedari awal meyakini bahwa lawan diskusinya adalah orang yang akal serta pengetahuannya lebih rendah dari dirinya. Atau dan atau lainnya. Lagi-lagi pas ditanya tentu jawabannya dalam rangka amar ma’ruf dan nahyi munkar

Tak jarang juga atas nama dakwah seorang da’i muda membuka lebar-lebar pintu inboxnya bagi siapa saja akhwat khususnya yang membutuhkan konsultasi. Berawal dari konsultasi syar’i ke konsultasi syakhsiy (personal). Hijab di dunia nyata ternyata copot begitu saja ketika dihadapkan pada ruang yang bernama chat, entah itu facebook dan lainnya. Dari mulai bertukar pertanyaan, nomor telepon hingga bertukar foto pun sudah dilakukannya.

Di dunia nyata pun setan sama saja tingkah lakunya. Seorang mahasiswa ilmu syar’i membaca hadits bahwa sholat sunnah di rumah adalah sholat yang afdhol bagi seorang muslim. Setan lalu membisikinya agar ia mengerjakan sesuatu yang tentu lebih afdhol baginya. Maka setelah selesai berjamaah di masjid, dia pun keluar tanpa sholat ba’diyah atau sholat sunnah setelah sholat fardhu. Dan ketika sampai di rumah ia pun bersantai-santai dan akhirnya hingga tiba waktu sholat berikutnya tak pula ia kerjakan sholat sunnah itu.

Atau seorang laki-laki yang membaca ayat “jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. Setanpun membisikinya agar ia menyelamatkan keluarganya. Hingga kemudian ia memutuskan tuk sholat berjamaah dengan keluarganya di rumah dan absen dalam berjamaah di masjid.

Dan seorang yang membaca tentang keagungan siroh atau sejarah hidup Nabi sholallahu ‘alayh wasallam. Bahwasannya beliau adalah seorang yang kaya raya sebagai buktinya bahwa mahar nikahnya tuk sang istri Khodijah rodhiyallahu anha berupa beberapa ekor unta. Lantas timbul keinginan dalam dirinya tuk mencontoh sang nabi. Kemudian ia pun larut dalam mencari urusan duniawi hingga melupakan aktivitas ukhrowinya. Atau bahkan malah timbul sifat kikir dalam dirinya, karna merasa bahwa harta itu adalah miliknya.

و الله أعلم

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Nasehat dan tag , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Kalah Dengan Setan

  1. Burhan berkata:

    Subhanallah. Saya benar2 hanyut membacanya. Padat tapi ringan dibaca, tanpa trs sdh di ujung halaman.

  2. pitaloka89 berkata:

    “Dari mulai bertukar pertanyaan, nomor telepon hingga bertukar foto pun sudah dilakukannya.”
    Ko tau Akh? #eh 😀

  3. Asop berkata:

    Yah itulah dia… pengaruh setan memang sangat kuat dan bagi kita manusia kadang sangat berat melawannya. Maklum aja, Soalnya iblis dan setan ‘kan memang sudah bersumpah sejak jaman Nabi Adam a.s. dilahirkan, mereka akan terus menggoda kita manusia sampai kiamat. Dan godaannya pun dari segala arah, atas bawah kiri kanan depan belakang. 😦

    Hanya kepada Allah-lah tempat sebaik2nya kembali dan berlindung. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s