Wujuduhu Ka’adamihi

بسم الله الرحمن الرحيم

وجوده كعدمه

Ini adalah sepenggal ungkapan arab yang bermakna kurang lebih “Ada-nya sama seperti ketidak beradaannya”. Mungkin hanya ini yang bisa saya ucapkan ketika melihat gerak serta tingkah laku Presiden kita yang terhormat bapak Dr. H. Jend (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono.

dari wartanews.com

dari wartanews.com

Sangat amat disayangkan, Pak SBY selaku pucuk pimpinan tertinggi (sampai saat tulisan ini dibuat), hanya dapat mengomentari apa yang terjadi di Mesir hanya melalui akun twitternya. Padahal salah seorang ulama kenamaan Al Azhar, yang juga merangkap dewan penasehat Syaikhul Azhar yang bernama Dr Hassan Syafi’I telah jauh hari meminta kepada Indonesia agar berperan aktif terhadap apa yang terjadi di Mesir.

Pak SBY selaku kepala negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia sekaligus (katanya) kampiun demokrasi dunia, harusnya beliau bisa dan mampu mengeluarkan pernyataan yang lebih menggigit atau bahkan menampar rezim militer yang dikomandoi al Sisiy.

Beliau adalah Presiden NKRI, sebuah negara besar baik secara harfiyah ataupun maknawiyah. Beliau teramat jelas bukanlah termasuk barisan alay yang hanya bisa komentar lewat jejaring sosial. Di pundaknya ada 220 juta manusia Indonesia, yang sebagian besarnya adalah umat yang bersyahadat La ilaha Illallah, Muhammadurrasulullah.

Kemarin Pak Presiden yang juga gemar membuat lagu ini sempat beberapa kali berkicau terkait kondisi Mesir.

Beberapa diantaranya :

I am very concerned with the evolving situation in Egypt. Casualties are rising. Indonesia hopes that the situation will not worsen. *SBY*

Indonesia hopes the Egyptian govt & military & the Muslim Brotherhood will do all they can to prevent more casualties from falling. *SBY*

The excessive use of military force against protesters in Egypt contradict democratic values and human rights. *SBY*

A win-win solution must be found, no matter how difficult. Cessation of all acts of violence by both sides must first commence. *SBY*

15 yrs ago RI endured political turmoil, security threats. We overcame them because military & civilians together supported reforms. *SBY*

TNI reformed internally & supported democracy; civilian leaders worked w/ military to solidify new political landscape. *SBY*

Dan coba kita kilas balik tentang tweet Pak SBY terkait Bom Boston, apa yang beliau kicaukan :

“Indonesians and I are deeply saddened by the Boston bombings. Our prayers are with the victims and their families. *SBY*.”

Menariknya kicauan ini dibuat pada pukul 04.18 WIB pada tanggal 16 april 2013, sedangkan peristiwa bom yang merenggut tiga nyawa tersebut terjadi pada tanggal 15 april 2013 pukul 14.45 waktu setempat atau sama dengan 02.45 WIB. Ini salah satu bukti teranyar bahwa Pak SBY ternyata bisa cepat dalam merespon suatu peristiwa.

Kalimat “deeply saddened” tak keluar pada kicauannya terkait Mesir (ataupun peristiwa pembantaian umat muslim lainnya). Padahal jumlah kedua peristiwa tersebut amat jauh berbeda bagaikan langit dan bumi. Bom bostom = 3 korban jiwa, sedangkan penjagalan Mesir = kurang lebih 3.000 jiwa.

Begitupun dengan ungkapan “Our Prayers are with the victims and their family”. Sebagai pimpinan partai yang mengklaim partainya relijius, harusnya beliau tahu atau minimal anak buahnya memberi tahu kepadanya bahwa Allah azza wa jalla telah melarang segala bentuk do’a terhadap orang-orang kafir yang sudah meninggal dunia.

Padahal yang layak diberikan do’a serta munajat adalah mereka-mereka saudara seaqidah yang diperlakukan zholim oleh pemimpinnya. Dan beruntunglah bagi dia yang mendo’akan saudaranya sesama muslim, bahwa ia akan senantiasa dido’akan oleh malaikat tiap kali ia berdo’a untuk saudaranya.

Mungkin sudah nasib kita, hidup dalam era mulkan jabbariyyan (raja yang memaksa kehendaknya) yang merupakan the dark ages of Islam. Keprihatinan kita bertambah ketika melihat pemimpin yang senantiasa kita do’akan ternyata tak berbuat banyak dalam mencegah tumpahnya darah yang keluar dari tubuh saudara-saudara kita seaqidah.

Sekat ideologi Nasionalis-Rasis lah yang membatasi gerak serta pikiran mereka para pemimpin umat muslim dalam mencegah pertumpahan darah yang terjadi. Kalau sudah begini maka do’a menjadi wajib dan senjata pamungkas yang harus kita arahkan ke dua raja. Yang pertama adalah raja zholim yang membunuhi rakyatnya, sedang yang kedua adalah raja bisu yang diam terhadap kezholiman yang terjadi di hadapannya.

و الله أعلم

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Wujuduhu Ka’adamihi

  1. jampang berkata:

    saya prihatin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s