Mushonnif Mukhlish

Gambar

Jujur saja, saya tidak terlalu mengerti tentang apa yang akan saya tulis. Yang jelas, saya hanya berusaha untuk mengeluarkan khowatir (perasaan yang mengusik pikiran) yang ada di kepala saya. Sekedar merefleksikan keberadaan saya di dunia maya. Dari mulai medan MP sampai sekarang beralih ke WP.

Apakah selama ini saya sudah menjadi golongan dari kelompok yang disebut Mushonnifuun Mukhlishuun (para penulis yang ikhlas)??

Karna hati ini terlalu banyak maksiat maka ia akan dengan sangat mudahnya untuk meng-iya-kan jawaban tadi.

Golongan ini sering sekali didoakan oleh saudara kita yang menggelar tahlilan ataupun tasyakuran. Mereka selalu meniatkan bacaan tahlil mereka kepada beberapa orang-orang yang mempunyai keutamaan, termasuk diantara orang-orang tersebut adalah al Mushonnifuun al Mukhlishuun.

~Aduhai, bahagia sekali mereka-mereka yang mendapatkan do’a serta pahala amal sholih yang diniatkan untuk mereka dari orang-orang yang hidup setelah mereka bahkan melintasi zaman ataupun makan (tempat)~

Dan pertanyaan :

Apakah saya sudah berhasil memasuki maqom tersebut??.

Entahlah . . . . .

Yang jelas terkadang timbul bau busuk, serta bunyian tidak merdu dari dalam ruang hati saya yang gelap, tatkala saya melihat beberapa tulisan yang saya buat di sebar luaskan oleh orang lain.

Bahkan terkadang perasaan jelek tadi bertambah, ketika orang lain tersebut tidak mencantumkan nama saya sebagai penulis aslinya ataupun meminta izin kepada saya. Maka tak sadar mulai muncul perasaan kesal, jengkel dan sebagainya. Dan rasa itu kian bertambah jika ada pujian yang dilayangkan kepadanya, padahal dia bukanlah penulis aslinya.

Atau demikian halnya jika ada yang memuji pribadi saya, maka terbentuklah sebuah simpul bangga di kedua bibir saya, dan perlahan terdengar hati ini berkata “siapa dulu penulisnya” (wal iyyadzu billah).

Al Imam Asy Syafii pernah berkata :

وددت أن هذا الخلق تعلموا هذا العلم على أن لاينسب إلي منه حرف

Saya menyukai jika para manusia mempelajari ilmu ini (kitab-kitab asy Syafi’i) tidak menisbahkannya kepadaku walau satu huruf-pun

Terlihat begitu zhohir bahwa sang Imam telah mencapai derajat Mushonnif Mukhlish. Hasilnya sudah sangatlah jelas. Lantara keikhlasan beliau rohimahullah, karya—karyanya sampai detik ini masih memberikan dampak yang luar biasa bagi khazanah keilmuan terutama di bidang fiqh.

Jika kita kembali hidup di zaman para salaf, maka teladan keikhlasan ini akan sangat mudah kita dapatkan. Mereka tidak mengejar bayang semu dunia baik kekayaan, kedudukan, ataupun ketenaran.

Semuanya ikhlas Lillahi ta’ala.

Pernah Imam Malik rohimahullah dimintakan kepadanya agar kitabnya yang fenomenal -Al Muwatho- digantungkan di Ka’bah agar para manusia mempelajarinya. Namun permintaan itu ditolak penuh tawadhu dan dengan lembutnya. Beliau beralasan bahwa ilmu agama itu banyak dan ilmu yang ada pada dirinya hanya sepersekian dari ilmu yang banyak tersebut.

Subhanallah . . . .

Ikhlas menjadi bahan bakar utama para salafus sholih dalam menuliskan namanya dilembaran sejarah.

Al Imam al Bukhory mengumpulkan dan menuliskan kitab shohihnya selama kurun waktu kurang lebih 16 tahun. Beliau menyaring sebanyak 7000-an hadits dari sekitar 600.000-an hadits yang berhasil ia kuasai. Itu pun setelah menjalani safar tholabul ilmi yang sangat panjang dan melelahkan.

Kalau bukan hanya karna mengharapkan ridho Allah ta’ala. Maka apakah itu, sesuatu yang dapat menggerakkan sang Imam dalam menceburkan dirinya kedalam sebuah amal yang akrab dengan kata-kata sulit, melelahkan, serta mengharukan.

Begitu-pun dengan al Imam Abul Wafa Ibnu Aqil rohimahullah. Beliau merupakan salah satu syiar kebanggaan kaum muslimin. Dari tangannya-lah lahir sebuah karya tulis yang begitu luar biasa -Al Funun-. Mungkin ada yang bertanya “Apakah al Funun itu??”. Ia adalah sebuah kitab yang berisi berbagai macam disiplin ilmu mulai dari al Quran dan tafsirnya, Hadits dan syarahnya, Fiqh dan furu’nya, Lughoh (bahasa) serta kaidahnya, Tarikh (sejarah), dan lain-lainnya.

Yang membuat kitab tersebut menjadi luar biasa adalah banyaknya jumlah mujalladnya (jilidnya). Dikatakan bahwa al Funun itu disusun sebanyak 800 jilid, bahkan dikatakan juga sebanyak 1000 jilid. Al Hafizh adz Dzahabiy berkomentar bahwa kitab itu merupakan kitab terbesar yang pernah ada di kolong langit.

Jika kita menghitung tebal 1 jilid = 2 cm. Maka tinggi dari susunan kitab itu dapat mencapai tinggi gedung 4 lantai. Dan itu pun hanya satu dari beberapa karyanya yang lain.

Subhanallah . . . .

Sangat jauh berbeda dari apa yang saya alami. Karna kalau boleh jujur, masih sering terjadi dalam diri saya. Jika, traffic kunjungan melemah maka akan berbanding lurus dengan semangat saya untuk menulis. Begitu juga sebaliknya. Jika meninggi maka tiba-tiba saja diri ini menjadi semangat untuk menulis.

Sungguhlah bahwa Ikhlas itu merupakan hadiah dari Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tugas kita manusia hanya-lah berdoa agar Allah memberikan hadiah yang sangat dirindukan itu.

Karna betapa banyak mujahid, ulama, serta orang dermawan pada nantinya akan masuk neraka lantaran hilangnya rasa ‘Ibtigho mardhotillah’ dalam diri mereka saat mereka beramal. Wa naudzu billahi min dzalika.

Karna sesungguhnya pula keikhlasan itu adalah sebuah kunci hidayah baik bagi penulisnya ataupun pembacanya. Bagi penulisnya, keikhlasan bisa menjadi kunci untuk menuju ke anak tangga yang lebih tinggi lagi dalam menyelami sebuah proses perkenalanan dengan Tuhannya.

Sedangkan bagi para pembaca, maka keikhlasan sang penulis dapat menuntunnya ke hidayah Allah yang putih. Ikhlas itu dapat dengan jelas dirasakan, ia akan mudah menggapai hati para hamba Allah yang memang membutuhkan arahan.

Alangkah indahnya perkataan Malik bin Dinar mengenai hal ini: “Kejujuran itu nampak dalam hati yang lemah, lalu pemilik hati itupun mencarinya, dan Allah menambahnya hingga menjadikannya berbarakah pada dirinya, dan menjadilah perkataan/nasihatnya itu obat bagi orang-orang yang bersalah”. Lalu Malik berkata: “Hasan Al-Basri, Said bin Jubair dan semisal mereka itu, adalah mereka yang Allah hidupkan perkataannya kepada sekelompok manusia”

Ilmu itu merupakan sesuatu yang penting dalam sebuah proses pengajaran. Namun, metode atau penyampaian ilmu yang baik mengalahkan pentingnya ilmu itu. Metode yang baik juga penting dalam pengajaran. Namun, guru yang baik mengalahkan pentingnya metode tersebut. Guru yang baik juga penting dalam pengajaran. Namun, akhlaq baik sang guru mengalahkan pentingnya guru tersebut. Akhlaq baik sang guru pun juga penting dalam pengajaran. Namun, kesemuanya itu dikalahkan oleh keikhlasan sang guru.

Salah seorang ulama ditanya: “Mengapa perkataan Salafus Shalih lebih bermanfaat dari perkataan kita?” Maka ia pun menjawab : “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridho Allah Yang Maha Pemurah, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhaan mahluk”

اللهم اجعلنا من عبادك المخلصين

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Nasehat dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Mushonnif Mukhlish

  1. rivenskyatwinda berkata:

    tulisannya terinspirasi dari kitab qiro’ah mustawa robi’, bab qiyamatuz zaman yang ngejelasin Al-Funun, ya? mudah-mudahan berkah tulisannya.

    mungkin akan lebih baik baca bismillaah sebelum nulis bisa juga seperti beberapa ulama’ dahulu yang wudhu’ sebelum belajar.
    *saran aja.

    • Dinar Zul Akbar berkata:

      saran ditampung,, syukron
      terinspirasi dari qoulnya Imam Syafii

      bukan qiyamatuz zaman tapi qiimatuz zaman (nilai waktu)
      ada buku juga judulnya qiimatuz zaman ‘indal ulama yang isinya jauh lebih lengkap ketimbang yang ada di muqoror Lipia

      ala kuli hal

      ahlan bik, Winda

  2. kosa berkata:

    Ini yang saya cari tentang keikhlasan guru itu (Ilmu itu merupakan sesuatu yang penting dalam sebuah proses pengajaran. Namun, metode atau penyampaian ilmu yang baik mengalahkan pentingnya ilmu itu. Metode yang baik juga penting dalam pengajaran. Namun, guru yang baik mengalahkan pentingnya metode tersebut. Guru yang baik juga penting dalam pengajaran. Namun, akhlaq baik sang guru mengalahkan pentingnya guru tersebut. Akhlaq baik sang guru pun juga penting dalam pengajaran. Namun, kesemuanya itu dikalahkan oleh keikhlasan sang guru.) ada dikitab apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s