Mereka Yang Membolehkan Maulid

uhibbuka ya Rasul

Karna udah masuk bulan robiul awal. Biasanya ada sebagian umat Islam mulai rame-rame merayakan hari lahir Nabi Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam atau biasa populer dengan istilah maulid.

Selain rame-rame yang disebut diatas. Biasanya juga kita umat islam pada rame atawa berlomba-lomba dalam hal berargumentasi mengenai boleh-tidaknya maulid. Ada yang bilang boleh ada yang bilang haram, dengan dalil bideah, muhdats dan sebagainya.

Hal-hal kayak begini bakal bikin pusing orang-orang awam. Terutama bagi mereka yang awam namun semangat keagamaannya tinggi. Biasanya orang-orang tipe seperti ini bakal mengandalkan koneksi internet dan gugel. Di ketiklah keywordnya “Hukum Maulid”.

Nah, menariknya ternyata di dumay a.k.a dunia maya. Pendapat-pendapat yang tidak membolehkan maulid bahkan dengan kata-kata mengharamkannya. Terlihat lebih mendominasi panggung argumentasi ketimbang yang membolehkannya.

Menjadi gawat, ketika orang-orang yang terlalu bersemangat tadi. Setidaknya menurut pengalaman saya, gampang sekali memvonis sesat, harom, ahlul bid’ah dan sebagainya. Kepada teman-teman yang memang merayakannya. Dimulailah ia dengan mengutip atau copast artikel yang berisi fatwa ulama yang mengharamkannya.

Nah, gawatnya juga. Kebanyakan diantara mereka yang memperingati maulid. Mereka-mereka tadi cuman sekedar ikut-ikutan. Alhasil biasanya debat tak berujung bahkan menjurus caci maki keluar dari lisan-lisan dua kelompok tadi.

Oleh karna itu, saya disini hanya menawarkan pendapat para ulama yang membolehkan akan peringatan maulid ini. Tulisan ini saya kutip sebagian dari situs aljounaid.ma sebuah situs keislaman dari negeri Maroko.

Beberapa diantara Ulama yang membolehkan dan menganggap baik perayaan maulidun Nabiy Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam :

 أبو الخطاب ابن دحية الكلبي السبتي[633هـ]، ويعد كتابه “التنوير في ميلاد السراج المنير” أقدم ما يعرف من الكتب المؤلفة في المولد، ألفه لأمير إربل صهر صلاح الدين عندما رأى عنايته بالاحتفال بالمولد النبوي سنة 604هـ

1. Abul Khotob ibn Dihyah al Kalbiy as Sabty (633 H) menulis sebuah kitab “at Tanwiir Fii Miiladi as Sirooji al Muniir” merupakan kitab yang paling klasik yang dikarang dalam hal perkara maulid. Beliau mengarangnya untuk Amir Irbil kerabat Sholahuddin ketika beliau melihat perhatiannya akan perayaan maulid nabi tahun 704 H.

 القاضي أبو العباس أحمد اللخمي السبتي[633هـ]، وهو أول من ندب لهذا الاحتفال بالمغرب، وألف فيه كتابه: “الدر المنظم في مولد النبي الأعظم”

2. al Qodhiy Abul ‘Abbas Ahmad al Lakhmiy as Sibty (633 H) Beliau merupakan sosok yang pertama kali mengajak akan perayaan maulid di Maroko dan mengarang sebuah kitab yang berjudul “ad Durrul Munazhzhom Fii Mawlidi an Nabiyyi al A’zhom”.

 الحافظ شهاب الدين عبد الرحمن الشافعي: أبو شامة المقدسي[665هـ] المعروف بشيخ الإمام النووي قال: “ومن أحسن ما ابتدع في زماننا هذا ما يُفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولد الرسول صلى الله عليه وسلم من المعروف والصدقات وإظهار الفرح والسرور، فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء يُشعر بمحبة رسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك

3. al Hafizh Syihabuddin ‘Abd Rohman asy Syafi’i atau dikenal juga Abu Syamah al Maqdisiy (665 H) Yang terkenal dengan julukan Syaikhun Nawawiy (Gurunya Imam an Nawawiy) pernah berkata “dan merupakan sebagian perkara baik yang diada-adakan (maa ubtudi’a) pada zaman kita adalah apa-apa yang dikerjakan pada tiap tahunnya dalam satu hari yang bertepatan sebagai hari Maulid/kelahiran Rasul sholallahu ‘alayh wasallam didalamnya terdapat hal-hal baik, memperbanyak shodaqoh, dan menampakan kesenangan serta kegembiraan. Maka sungguh hal tersebut –apa2 yang didalamnya- juga diantaranya berbuat baik kepada orang-orang faqir mengesankan  kecintaan kepada Rasul sholallahu ‘alayh wasallam dan pengormatan kepadanya pada tiap-tiap hati yang melaksanakannya.

الإمام تقي الدين السبكي [664هـ]: ذكر نور الدين الحلبي[1014هـ] في سيرته أن الإمام شيخ الإسلام تقي الدين السبكي رئيس علماء الشافعية بمصر اجتمع عنده في مجلسه كثير من علماء عصره فأنشد الشاعر الصرصري قوله في مدح الرسول صلى الله عليه وسلم:

4. al Imam Taqiyuddin as Subkiy (664 H). Nuruddin al Halabiy menyebutkan (1014 H) dalam sirohnya bahwasannya al Imam Syaikhul Islam Taqiyuddin as Subkiy merupakan pemimpin ulama mazhab Syafi’I di Mesir. Berkumpul disampingnya dalam majelisnya segolongan ulama pada zamannya. Pada saat itu seorang Penyair ash Shurshuriy bersenandung memuji Rasul Sholallahu ‘alayh wasallam.

NB : Ash Shursury seorang penyair yang mengarang kitab maulid berjudul Maulid Ash Shursury.

 الشيخ محمد بن عباد أبو عبد الله الرندي [730هـ]: سئل هذا العارف بالله عما يقع في المولد النبوي من إيقاد الشموع و غيرها فأجاب: “الذي يظهر أنه عيد من أعياد المسلمين وموسم من مواسمهم””

5. Syaikh Muhammad ibn Ubbad Abu Abdillah ar Rondiy  (730 H) al Arif biLLah ini pernah ditanya tentang yang terjadi di Maulid yakni penyalaan lilin dan selainnya maka beliau menjawab “Yang terlihat seakan-akan maulid merupakan Hari Raya –’Idun- bagi kaum muslimin”

الحافظ ابن حجر العسقلاني[852هـ] خاتمة الحفاظ وأمير المؤمنين في الحديث: وقد استنبط تخريج جواز عمل  المولد من حديث ثابت في الصحيحين عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه “قدم المدينة فوجد اليهود يصومون عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون و نجى فيه موسى فنحن نصومه شكرا لله، فقال صلى الله عليه وسلم نحن أولى بموسى منكم”

6. al Hafizh Ibn Hajar al Asqolaniy (852 H) penutup para Huffazh dan amirul mukminin dalam hal ilmu hadits. Beliau telah beristinbath dari penelitiannya akan bolehnya amalan maulid dari hadits yang tsabit dari kitab Bukhori dan Muslim dari Nabi Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam bahwa beliau sampai ke Madinah dan menemukan kaum Yahudi berpuasa Asyuro. Maka beliau bertanya akan hal itu pada mereka dan mereka menjawab hari ini adalah hari dimana Allah menenggelamkan firaun dan menyelamatkan kami. Maka kami berpuasa dalam rangka syukur kepada Allah. Maka Beliau sholallahu ‘alayh wasallam berkata kami orang-orang muslim lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.

Tambahan :

al Imam as Suyuthiy menuliskan dalam kitabnya Husnul Maqshid bahwa pernah ditanya Imam ibn Hajar al Asqolaniy mengenai perayaan maulid lalu beliau menjawab :

“Aslinya amalan ini (Maulid) adalah bid’ah karena ia tak dinukil dari generasi terbaik salaf pada abad-abad yang paling utama (abad 1, 2, 3 Hijriah). Akan tetapi didalamnya terdapat kebaikan juga terdapat keburukan. Barang siapa yang mencari kebaikan dan menjauhi kejelekan didalamnya maka ia Bid’ah Hasanah. Barang siapa yang tidak dapat maka kebalikannya”.

 الحافظ شمس الدين السخاوي[876 هـ]: وهو من المعروفين بالتشدد في مجال البدع قال: “إن عمل المولد أُحدث بعد القرون الثلاثة الأولى ثم لازال أهل الإسلام بسائر الأقطار يعملونه و يتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات و يعتنون بقراءة مولده الكريم و يظهر عليهم من بركاته كل فضل عظيم”.

7. Al Hafizh Syamsuddin as Sakhowiy (876 H) beliau dikenal sebagai orang yang keras terhadap hal-hal yang berbau bid’ah. Berkata beliau “Sungguh amalan maulid ini merupakan hal baru setelah 3 abad yang mulia. Kemudian senantiasa kaum muslim seluruh penjuru mengerjakannya dan bershodaqoh pada malam harinya dengan berbagai rupa shodaqoh dan bersemangat dalam membaca maulid Nabi yang mulia. Yang terlihat atas kesemua mereka itu adalah sebagian keberkahan Nabi  yakni seluruh nikmat yang agung”.

 الإمام الحافظ جلال الدين السيوطي[911هـ]: وقد ألف فيه رسالته الماتعة “حسن المقصد في عمل المولد”، وضمنه أقوال العلماء المُجيزين للاحتفال بهذه الذكرى وأنه موافق لهم، وبين ثناء العلماء على أول من أحدث ذلك وهو الملك المظفر صاحب إربل أبو سعيد بن زين الدين علي [630هـ]، أحد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد، وممن أثنى عليه بذلك: ابن كثير في تاريخه، وسبط ابن الجوزي في مرآة الزمان، وابن خلكان في وفيات الأعيان وغيرهم

8. al Imam al Hafizh Jalaluddin as Suyuthiy (911 H) telah menulis sebuah risalah “Husnul Maqshid Fii ‘Amalil Mawlid”. Didalamnya terdapat ucapan-ucapan Ulama yang membolehkan perayaan ini untuk peringatan dan sesungguhnya al Imam as Suyuthiy menyetujui mereka semuanya. Beliau juga menerangkan pujian ulama kepada siapa yang memulai perkara ini. Dia adalah Sultan al Muzhoffar penguasa Irbil Abu Said ibn Zaynuddin ‘Aliy (630 H) salah seorang raja yang mulia agung juga dermawan. Dan beberapa diantaranya yang juga memujinya adalah ibu Katsir dalam Tarikhnya. Sibth ibn al Jawziy dalam Miratuz Zaman dan ibnu Kholqon dalam Wafayatul A’yan dan selain mereka.

Tambahan :

Berkata al Imam Syamsuddin ibn Nashiruddin ad Dimasyqiy dalam kitabnya -Mawridus Shodiy Fii Mawlidil Hadiy- “benar bahwa Abu Lahab telah diringankan siksanya pada hari senin ketika ia membebaskan budaknya Tsuwaibah sebagai ekspresi kegembiraannya akan kelahiran Nabi Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam”.

Kemudian Ia menandungkan sebuah syair :

Jikalau dia saja (Abu Lahab) sang Kafir yang tangannya terbelenggu di neraka selamanya

Datang padanya tiap hari senin keringanan siksaan disebabkan kesenangannya akan lahirnya Ahmad (Nabi Muhammad)

Maka bagaimana kiranya terhadap seorang yang bergembira akan kelahirannya sedangkan ia hidup dan mati dalam keadaan bertauhid??.

Sebagai penutup saya kutip sebagian fatwa Darul Ifta yang merupakan MUI-nya Mesir tentang hukum perayaan Maulid Nabi Sholallahu ‘alayh wasallam. Fatwa dikeluarkan tanggal 30 Juli 2007 bernomor 1186.

“Dan perayaan akan peringatan maulid penghulu dua alam, penutup para nabi dan rasul, serta nabi pembawa rahmat Sayyiduna Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam merupakan salah satu dari amalan yang agung dan upaya taqorrub yang luhur.

Karena ia merupakan ungkapan akan kesukacitaan dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam. Dan kecintaan pada Nabi merupakan salah satu usul atau dasar dari keimanan.”

Lebih lengkap liat disini (jangan takut ada edisi terjemahan Indonesianya cukup klik yang ada huruf ID-nya ada di bagian-bagian atas, jadi cari aja ya sendiri-sendiri 🙂 )

 Oya gambar nyari di gugel dengan keyword مولد النبي

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Nabi SAW dan tag , , , , , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Mereka Yang Membolehkan Maulid

  1. jampang berkata:

    sepertinya bahasan pro-kontra semacam ini susah dicari titik temunya 🙂

  2. Ikakoentjoro berkata:

    Makasih sharingnya 🙂

  3. j4uharry berkata:

    Gimana kemarin katanya ada yg kesurupan lagi ???

  4. arip berkata:

    Saya sendiri lebih memandang maulid ini sbg momentum aja, ga lebih. Tapi ttp respek sama yg ngerayain sih. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s