Ijab Kabul : Yang Lucu dan Yang Haru

jb

Untuk pertama-tama, saya klarifikasi bahwa saya bukanlah pelaku dari gambar diatas. Baik yang memerankan mempelai pria, pak penghulu, apalagi mempelai wanita. Tidak demi Allah, itu bukan saya.

Dan untuk yang kedua, bilamana ada kesamaan tokoh-tokoh diatas dengan anda, istri ataupun suami anda, atau orang tua anda, atau juga kerabat anda. Sungguh hal itu tidaklah disengaja, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Dan yang ketiga, kita do’akan sama-sama bahwa mereka-mereka yang terlihat diatas pernikahannya akan diberikan rasa sakinah, mawaddah, dan rohmah (bukan warahmah). Aamiin.

Nah, itu prolog-nya.

Sekarang masuk ke pembahasannya. Sudah siap??

Ijab dan Kabul. Sepasang kata ini menjadi rindu bagi tiap-tiap individu, baik laki-laki (muslim) dan perempuan (muslimah). Namun, satu hal yang pasti bahwa seluruh perempuan tentu mengharapkan bahwa Ijab Kabul yang dilewati dalam salah satu episode hidupnya. Hanya untuk yang pertama dan terakhir.

Sementara untuk laki-laki- umumnya -, maka ia tidak dapat bersikap se-idealis perempuan. Bisa jadi ia mengharapkan dari hati kecilnya untuk bisa mengulang kembali momen itu lebih dari satu kali dalam seluruh serial kehidupannya. Atau mungkin ia bisa mengucapkan “oke cukup 1 kali” namun hanya dalam salah satu ruang hatinya yang gelap, sempit dan kedap suara. Dan tak berani ia mengucapkan ataupun mengikrarkannya. Wa Allahu A’lam hanya Allah yang tahu jawabannya.

Karena perempuan itu unik. Banyak ditemui di dunia ini, seorang janda –terutama yang ditinggal wafat- yang sulit menikah untuk kedua kalinya. Ia merasa “ketakutan” bahwa suami yang baru tak sebaik  suaminya yang lama.

Namun, bagi laki-laki. Sulit rasanya menemukan  ada seorang duda –terutama yang ditinggal wafat- untuk tidak menikah, mencari pengganti istri yang lama. Tentu banyak alasan, yang itu sah-sah saja. Makanya ada ungkapan di qosidah ibu-ibu pengajian. Saya tak hafal persis liriknya. Tapi inti kata-katanya begini. Bila istri meninggal maka sang suami menangis sebelah mata, sementara mata yang sebelahnya melirik yang lain dan mencari penggantinya.

Okee,, kita tinggalkan saja pembahasan yang kontroversial ini.

Balik lagi ke momen Ijab-Kabul. Saya alhamdulillah beberapa kali ikut dalam acara sakral ini. Mulai dari membawa seserahan, ataupun diminta membaca ayat alQuran. Dan dibeberapa momen tersebut ada yang lucu dan haru –setidaknya menurut sih saya kayak gitu-.

 Bagian pertama : Yang Lucu –nya

Tokoh sentral di balik kelucuan-kelucuan yang terjadi adalah si Penghulu. Entah memang sudah ditraining supaya bisa lucu atau tidak. Banyak joke-joke yang keluar dari mulut Pak Penghulu yang bisa memecah keheningan dan mencairkan suasana dalam proses yang diharapkan berlangsung tenang itu.

Misalnya yang terjadi di akad nikah salah satu temen ngaji :

(nama disamarkan, dan redaksi diusahakan semirip kejadian)

-Sebelum akad nikah-

Pak Penghulu    : Bapak-bapak, Ibu-ibu hadirin semua. Sebentar lagi kita akan memasuki prosesi aqdun nikah. Sudah ada disamping saya calon mempelai pria saudara –menyebutkan nama mempelai pria-. Jadi bang ****** masih perjaka ya??

Memp. Pria        : (mengangguk)

Pak Penghulu       : Alhamdulillah, bapak-ibu Saudara ******* masih perjaka. Jadi Insya Allah kalau kita sentil masih bisa bunyi ting-ting.

Hadirin                  : (tertawa)

**jangan-jangan maharnya sepotong baja??**

Di akad nikah yang laennya :

-sesudah akad nikah-

Pak Penghulu    : Alhamdulillah, proses akad telah kita lewati bersama-sama.

Memp. Pria        : (tampak gugup)

Pak Penghulu    : Eh, kenapa koq Bang ******* kelihatannya gugup?? Sebelumnya udah pernah nikah??

Memp. Pria        : (karena masih gugup, jadi cuman bisa godek –seperti isyarat mengangguk yang berarti iya, maka godek berarti tidak-)

Pak Penghulu       : Belum pernah nikah?? Lho tadi kita capek-capek ngapain?? Waduh, bang ****** bisa-bisanya udah berani bohong, padahal ada istri tuh lagi duduk dibelakang.

Hadirin                    : (kembali tertawa)

**kena lagi tuh mempelai pria-nya**

Di tempat terpisah :

-sama, sesudah akad nikah. Tepatnya saat penyerahan buku nikah-

Pak Penghulu       : Ini saya serahkan buku nikahnya. Jadi tolong disimpan dan dijaga baik-baik. Dan ini juga bisa disebut SIM. Surat Izin Me. . . . ??(bertanya pada mempelai pria)

Memp .Pria           : (dengan suara yang lemah, maklum baru aja akad) . . . . . n i k a h.

Pak Penghulu       : bukan, ini Surat Izin M e, me  . . . . n i  k a m .

Hadirin                    : (anda taulah, mereka cuman bisa tertawa termasuk saya)

**emangnya mau bunuh-bunuhan??**

Itu segmen yang lucu-lucu, walaupun ada beberapa yang gak disebut. Takut yang baca pada bosen.

Lanjut bagian kedua : yang haru –nya

Ini terjadi sekitar tahun 2008. Ketika itu saya diminta oleh murobbiy untuk membaca al Quran di akad nikah salah seorang kawannya sebagai badal dirinya. Dan Qoddarallah TKP tidak jauh dari rumah, jadi saya meng-iyakan saja instruksi dari beliau itu.

SMS udah masuk, isinya mengenai alamat tempat akadnya. Saya tiba disebuah musholla kecil. Kami  orang betawi menyebutnya Langgar. Makanya di kalangan orang-orang tua betawi sering muncul celetukan “Kalo Sholat di Langgar itu boleh”. Balik ke langgar, saya sampai sebelum acara. Jadi masih sepi. Saking sepinya cuman ada saya sendirian di Langgar itu.

Selang beberapa menit. Datanglah dua orang. Yang satu muda lengkap dengan stelan pria yang mau akad. Yang satu lagi bapak-bapak. Yang juga unik celana dari stelan rapi itu, diatas mata kaki. Lantas Saya mikir, koq cuman berdua?? Rombongan keluarga yang laen pada kemana??. Usut punya usut ternyata sosok pemuda yang merupakan keturunan TiongHoa ini merupakan mualaf. Sedangkan yang bapak-bapak itu adalah temen pengajiannya yang nanti akan menjadi saksi perwakilan dari pria.

Jadi kenapa keluarganya gak ikut, karena dia mualaf sedangkan keluarganya masih non muslim. Entah karena alasan spesifiknya apa, gak ngerti juga.

Lalu muncullah pihak keluarga perempuan. Saya memperkenalkan diri bla bla bla. Setelah itu duduk lagi sambil menunggu yang lainnya. Saya perhatiin koq langgar sepi, gak banyak orang. Terjawab lagi karena keluarga dari perempuan merupakan warga pendatang jadi mungkin kenalannya masih belum banyak.

Akhirnya yang perempuan datang. Saya gak liat terlalu jelas. Yang jelas saya liat kedua orang tuanya. Subhanallah, ternyata kedua orang tua perempuan ini -maaf- tuna netra. Mereka berprofesi sebagai tukang pijat. Mereka berdua pun dibantu oleh yang lain untuk masuk kedalam langgar.

Lengkap semua sudah hadir. Dari mulai pihak keluarga, penghulu, kedua mempelai, saksi  dan lain-lain. Namun keterkejutan saya masih belum usai. Dan inilah hal yang lebih mengejutkan. Ketika penghulu mengurus berkas-berkas. Dia bertanya tentang mas kawin apa yang diberikan oleh si Pria.

Dan Subhanallah, ternyata mas kawinnya “hanya” pembacaan atau hafalan surat ar Rohman, tanpa gelang emas, ataupun uang tunai.

Akad pun dimulai, sebelumnya saya pun menyelesaikan amanat yang diberikan. Ijab kabul selesai selesai, tak juga ia memakan waktu yang lama. Dan tibalah untuk pemberian mahar dari pihak pria kepada perempuan.

Mulailah si Pria membacakan kalam Allah itu disaksikan oleh para hadirin. Surat Ar Rohman juga disebutkan dalam salah satu riwayat dengan nama mempelai al Quran. Cocok sekali dengan peristiwa yang berlangsung. Ia pun membaca, dan alhamdulillah selesai walau butuh pembetulan disana-sini. Maklum namanya mualaf maka belum lancar benar beliau membacanya.

Sementara saya yang mendengar hanya bisa tertegun, berdecak kagum kepada kedua pihak. Kepada laki-lakinya yang dengan hafalannya walau tak lancar dalam bacaannya menampar muka saya. Karena memang waktu itu saya belum dapat menghafal ar Rohman. Saya yang waktu itu sudah memeluk islam selama 17 tahun “dikalahkan” oleh seseorang yang baru memeluk islam hitungan bulan.

Kepada yang perempuan terlebih lagi besar kekaguman saya. Dengan keterbasaan yang ada beliau hanya meminta mahar ar Rohman. Sesuatu yang langka dan jarang terjadi. Ibarat kata orang-orang tua dulu “perempuan model begitu kalo belom mati jangan dikuburin”. Benarlah ungkapan bahwa perempuan baik adalah yang meringankan maharnya.

Setelah akad yang memang sederhana dan sarat akan pelajaran usai. Saya pulang pamit kerumah. Sebelum itu dari pihak keluarga perempuan memberikan saya sebuah buku tentang sholat karya Ust Abu Sangkan.

Sementara dalam perjalanan pulang saya bersyukur dapat menjadi saksi hidup pernikahan yang sangat jarang terjadi itu. Ditengah hirup pikuk dunia yang semu khususnya di Jakarta, semua orang berlomba-lomba mengejar manisnya dunia. Namun dari kedua manusia tersebut saya belajar bahwa pernikahan itu yang penting berkah bukan mewah, yang penting sarat hikmah bukan penuh kesan wah .

Terima kasih saya ucapkan  kepada Mba Eni dan suami. Ya, Eni adalah nama perempuan penerus generasi salaf itu. Mudah-mudahan Allah senantiasa menaungi mereka berdua dalam cintaNya. Aaamiiin

Iklan

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Nikaah dan tag . Tandai permalink.

26 Balasan ke Ijab Kabul : Yang Lucu dan Yang Haru

  1. jampang berkata:

    ada juga seh penghulu yang bawaannya serius 😀

    aqdun nikah yg terakhir…. mengharukan

  2. tetehayyu berkata:

    merinding kalo dapet mahar hapalan surat 🙂

  3. rezky batari berkata:

    Bismillah

    Mendarat disini lagi, pertama baca harus geleng-geleng..
    Akhirnya manggut-manggut..
    Inspiratif..

    Ada yang ucapin ijab-kabul sampe 5x nda?? Sy pernah dengar tuh, karena hadirin sudah capek nunggu ucapan ijab-kabulnya benar akhirnya kompakan bilang “sah..” dan pak penghulu harus pasrah ikutan bilang “sah!”

  4. Wiwik Widiyatni berkata:

    ijab kabul emang sangat mengharukan…

  5. Iwan Yuliyanto berkata:

    Jam terbangmu di acara ijab qabul tinggi juga ya… panasnya udah level berapa sekarang?

    • Dinar Zul Akbar berkata:

      yaaa,, lumayan lah Pak..
      seenggaknya nanti gak gampang kena Smash dari Pak Penghulu,, karena beberapa jurusnya udah kebongkar.. hha

      baru level berapa??
      wah masih belum panas saya,, saya Alhamdulillah orangnya gak gampang panasan..
      hha

  6. Lailatul Qadr berkata:

    Saya menitikkan air mata ketika membaca judul postingan ini pertama kali. Berasa gimanaaaaaaa gitu.. hmmmmmmfffffff… *menghela nafas*

    • Dinar Zul Akbar berkata:

      padahal diksinya sudah dipilah pilih biar gak ada yg terharu walau pointnya mengharukan..
      lagian berasa apa Mba’e?? ngerasa kalo saya udah nikah terus gak ngundang2 Mba’e??

      tenang2 nanti kalo saya jadi aktor utamanya,, saya kasih tahu..
      🙂

  7. j4uharry berkata:

    Wah ramai juga
    .
    ..

    Pasti bapak yg moto kalau gitu yah.

  8. thetrueideas berkata:

    kalau bisa sih, maharnya berupa materi, karena ini lebih utama, coba lihat narasi hadits ttg mahar…yang didahulukan Nabi, adalah materi utk sang istri….

    bedewe, kalo utk yang kedua, ketiga, atawa keempat pada deg-degan gak yah… *upsss

    • Dinar Zul Akbar berkata:

      ahlan Pak Syamsul,, udah lama gak liat2 gambar T2TS
      mungkin didahulukan karna bersifat umum kali ya?? karna susah juga dapet perempuan yg cuman mau surat2 Quran maunya kebanyakan dan umumnya surat tanah, atau surat2 berharga lainnya

      untuk yg kedua dst,, wah2 kalo saya belum bisa jawab tuh,, yang pertama aja belum jelas kapan..

  9. pitaloka89 berkata:

    merinding…
    Kadang mualaf itu memang lebih luar biasa…

    • Dinar Zul Akbar berkata:

      padahal ttg Ijab-Kabul??
      kenapa harus merinding Mba??

      tapi mirip ujinyali emang buat yang baca,,
      jadi pada berani gak kalo nanti cuman dapet surat ar Rohman, tanpa surat tanah???

      • pitaloka89 berkata:

        Selalu terharu sama orang2 yang menikah dengan mahar surat Al Qur’an.
        Mudah2an saya juga bisa minta mahar itu…
        Surat tanah, bisa dicari nanti kalau sudah sah 🙂

  10. arlis rahmawati berkata:

    Saya membaca sambil berkaca kaca menahan rasa haru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s