Tholib Bukan Mahasiswa

Apa yang ada dipikiran Kisanak (waduh bahasanya) jika mendengar kata Tholib??

a.    Berhubungan dengan ‘Aliy ibn Abi Tholib
b.    Tidak pulang 3 x Lebaran 3 x puasa (eh itu mah bang Thoyyib)
c.    Kedua jawabannya salah

Jika anda memilih jawaban D. Maka anda-lah yang benar. Ya, lebih baik tak usah jawab pertanyaan bodoh ini.

طالب)) Tholib ini  jika diterjemahkan jadi Mahasiswa. Karna ini bahasa arab maka sudah sangat pasti istilah ini digunakan di perguruan tinggi di Eropa. Lha??. Maksudnya Eropa agak kebawah dikit yakni Tim-Teng dan sekitarnya.  Makanya gerakan Tholiban di Afghanistan sebetulnya  organisasi kemahasiswaan. Yang pernah saya baca, kalau dia Tholib maka dia belum selesai studinya. Sedangkan yang udah kelar masa belajarnya maka disebut Maula. -Insya Allah kalau gak salah-. Keren kan mahasiswa nenteng Kalashnikov 47 kemana-mana.

Balik ke tema..

Terus terang saja, saya lebih suka menyebut diri saya ini tholib ketimbang mahasiswa. Entahlah, tapi penyebutan Tholib jamaknya Thullab (طلاب) seperti punya kesan lebih mendalam. Karna dia berasal dari kata طلب-يطلب (tholaba-yathlubu) artinya menuntut, bisa juga mencari. Tergantung konteks kalimatnya.

Ada hadits yang berbunyi (mungkin udah pada hafal luar kepala) :

طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة

(menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah)

Jadi ilmu itu harus dituntut bukan dicari, walaupun bakal ada suara sumbang “salah apa ilmu sampai ia harus dituntut”. Karna kata ‘menuntut’ lebih dalam maknanya daripada ‘mencari’. Menuntut biasanya ada pengorbanan didalamnya. Sedangkan mencari belum tentu ada rasa itu.

Sederhananya kalau si ‘cari’ ada diambil, gak ada ya udah. Tapi si ‘tuntut’ ada atau gak, harus ada dan harus bisa.

Makanya para ulama dalam mengamalkan hadits ini luar biasa perjuangannya. Sebut saja Yahya ibn Ma’in yang menghabiskan 1.050.000 dirham dalam rangka mencari beberapa hadits. Atau kisahnya ibn Mandah dalam menuntut ilmu. Sosok alim yang luar biasa menurut saya. Beliau pergi menuntut ilmu umur 20 tahun dan baru kembali ke kampong halaman ketika usianya 65 tahun. Dan barulah setelah itu beliau menikah setelah 65 tahun dari usianya.

Subhanallah, siapa coba yang bisa tahan gak nikah selama 45 tahun?. Lha koq jadi nikah??. Maksudnya, siapa coba jaman sekarang yang betah menuntut ilmu selama itu selama 45 tahun, bayangkan Sodara!!. Lebih lengkap kisah tentang para ulama liat buku ‘Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu’ karangan Abu Anas Majid al Bankani.

Nah, sekarang kita bedah Mahasiswa. Entahlah, saya kurang mengerti maksud kata Maha disitu apa?. Padahal ke-Maha-an atau kesempurnaan hanya milik Allah (kayak yang dibilang pak Ustadz) bukan milik siapapun apalagi siswa ataupun mahasiswa.

Terus terang pernah terlintas juga dalam pikiran saya yang sumpek. Apakah ke-maha-an dari mahasiswa membuat beberapa orang diantara mereka jadi berpikir hebat, tinggi, dan besar melampaui usianya??. Kurang paham juga. Tapi terus terang (terus terang mulu kayak lampu Philli*) agak risih pas denger, liat dan rasakan. Orasi-orasi dari sebagian diantara mereka berteriak lantang penuh semangat “Hidup MAHASISWA!!!”.

Dan dari beberapa kasus yang ada-walaupun gak semuanya-, ketika para mahasiswa itu berdemo yang katanya mau beraspirasi untuk mencoba menyelesaikan masalah, malah justru menambah masalah atau menjadi masalah baru tersendiri. Toh banyak diliput oleh media tindakan-tindakan mereka yang me-nyetop mobil-mobil, blokir jalan, sampai bakar-bakaran dan ngerusak sarana umum. Sebetulnya mereka itu nyadar apa nggak??. Tindakan-tindakan tersebut malah jadi boomerang buat mereka sendiri. Rakyat kecil yang mereka bela malah jadi antipati –termasuk saya-.

Miris?? Banget.

Makanya, apa mungkin jika ke-Maha-an dari mereka dihapus saja, maka mereka tak akan menjadi sesakti itu??.

Wa Allahu A’lam

(kawan-kawan tholib lain di Ruang kelas kami, mengenai yang mana nyang nulis, tebak aja Insya Allah ada hadiahnya koq, tebak karakter muka mana yang cocok sama tulisan ini,, hhe)

Tentang Dinar Zul Akbar

Hanya seorang manusia biasa yang dikelilingi hal-hal luar biasa. Keseharian kuliah, kadang nulis, sering tidur dan suka merenung.
Pos ini dipublikasikan di Ringan dan tag . Tandai permalink.

13 Balasan ke Tholib Bukan Mahasiswa

  1. Iwan Yuliyanto berkata:

    Hidup THOLIB!

    Tebakan fotonya susah, mas 🙂

  2. j4uharry berkata:

    Biar saya tebak yg paling depan yg senyumnya paling semringah iya kan ??

  3. rezky batari berkata:

    Bismillah
    sebagai tambahan..
    … dan dari segelintir mahasiswa itu merusak citra keseluruhan mahasiswa.. Bertindak barbar dan rela menumpahkan darah sesama rekannya, ingat yah!hanya segelintir..
    *saya ndak ikut kuis-nya yah Dinar..
    #merek melek baca nih tulisan..

  4. rezky batari berkata:

    maksudnya merem melek, #tuh sampe salah nulis lagi..fiuuhhh

  5. mutsaqqif berkata:

    yang tengah!!! yg lagi duduk…ya khan? khan?

  6. rezky batari berkata:

    shahih..

    yah ndak mungkin dipelototin satu2 kan pserta foto season-nya cuma buat ikutan kuis…????
    /(-_-“)/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s